Feeds:
Tulisan
Komentar

Pensiun dini

Sebenarnya bukan maksud hati hendak meninggalkan blog tercinta ini. Tapi karena berbagai kesibukan dan kurangnya waktu yang kumiliki, maka dengan ini aku memutuskan akan menonaktifkan blog ini hingga 1 atau 2 bulan kedepan.

Sementara ini aku akan bermukim di sini. Teman-teman dipersilahkan berkunjung dengan membawa cemilan sendiri dan minuman sendiri.  Datang tidak diundang, pergi musti pamitan.

Wokkehhh…

Sekian dulu pengumuman ini.

Jangan lupa Friend, mampir yah ke sini

Kutunggu kedatanganmu.

Otak butek

Sumpah, akhir-akhir ini aku merasa capeeekkk… banget dengan kerjaan di kantor. Pengen cuti sih, tapi ninggalin kerjaan numpuk gini nggak enak juga. Bakal termimpi-mimpi ntar dirumah.

 

Duh… mau ngapain ya? Kerja mulu suntuk, tau! Tapi pengen buka blog aja susaaaahhhh…banget.

Pengennya tiap hari bisa update blog, bisa keliling dunia maya nan indah ini.

Tapi…. Waktunya nggak pernah cukup.

Nyampe dirumah pernah kepikir untuk nyalain computer, tapi baru tekan tombol switch on, aku juga langsung “on” alias ngantuk.

Gimana coba…?? ;(

 

Hidup ini kok makin hari makin getir aja, liat aja tuh beberapa teman aku udah kehilangan kerjaannya karena Bang Kris (bangkrut karena krisis) datang.

Aku yang kepengan dipecat malah nggak dipecat-pecat.

Apa karena perusahaan tempat aku memeras otak ini masih mampu berdiri walaupun digoyang Bang Kris? Atau karena aku karyawan teladan hingga si boss mikir 100x mau mecat aku? (ngayal*com)

 

Doh….., aku kok ngarep banget dipecat, trus dapat pesangon yang cukup untuk hidup lima turunan (nggak usah tujuh deh, kalo nggak mampu, tapi mungkin nggak yah…?  )

Ya, udah kalaupun pesangonnya nggak sebanyak itu, cukup untuk buka usaha kecil-kecilan pun jadilah….

 

Tapi mau usaha apa? Secara warung kecil aja sekarang pada sepi. Orang-orang pada malas belanja karena harga-harga nggak turun-turun walopun BBM udah 3 kali turun dari kemarin-kemarin. Tapi harga lontong sayur malah naik serebu tuh… Pas di komplain, ibu tukang lontong malah bilang, harga beras mahaaaaallll….

 

Jadi gimana donggg… Pecat aku dong bos…!

 

Mungkin aku atu-atunya orang didunia yang pengen dipecat ya? Situ penasarang nggak, kenapa aku pengen dipecat? Ayo dong, penasaran…..

 

Yah, aku dah bosan disini, udah ratusan tahun rasanya kerja disini. Atasanku aja udah silih berganti. Nah, tuh die tuh penyebab aku pengen dipecat. Atasanku yang baru ini, hobinya ngomooooooonggg… mulu. Padahal laki-laki loh! Biasanya laki-laki yang cihui tuh, sedikit bicara banyak bekerja. Itu tuh, lelaki pujaanku kayak gitu. Bukan laki-laki yang ember kayak gini. Kok ya hobinya 3 Ng; ngomong, ngomel dan ngedumel. Capek tau,dengernya. Every day lagi. Start dari jam 8 pagi ampe jam 5 sore. Begitu pantatnya duduk, langsung deh mulutnya bunyi, kayak ada semacam kontak terselubung antara pantat dengan mulut. Iyyy..!!

 

Itulah, makanya Coy….! Aku pengen berhenti, buka usaha ndiri. Bosan kale jadi anak buah orang mulu…. (idih, belagu!)

Please Bos, pecat aku dong.

Tapi ingat, pesangonnya kudu cukup untuk 5 turunan.

Oke, Bos..?! J

Pagi Minggu kemarin, saat lari pagi bersama keluarga, aku melewati sebuah area perumahan. Setelah memasuki gerbang, kami di sambut oleh pagar betis spanduk para caleg yang bakal bertarung April nanti (saking rapatnya spanduk bisa buat pagar betis juga loh…).

 

Suasana masih temaram, matahari belum muncul seutuhnya, lampu jalan pun belum dipadamkan. Di ujung jalan aku melihat seorang ibu setengah baya sedang berusaha menarik salah satu spanduk yang berjejer dipinggir jalan tersebut. Ibu yang lain berdiri dibelakang sambil memegangi mukena… (habis shalat subuh langsung lari pagi kali nih, si Ibu )

 

Aku mendekat dan berhenti didekat si Ibu yang sedang berusaha keras menarik spanduk.

 

“Pagi, Ibu…”

“Pagi…” si Ibu tersipu-sipu.

“Untuk apa tuh Bu?” aku menunjuk spanduk setengah robek yang sekarang sudah berpindah ke tangan si Ibu. Saking buru-buru narik, spanduk itu sampai robek.

“Ini,…. Ngg…. Ambil ini, nak… Sayang nanti kan dibuang juga. Saya mau bikin sarung bantal pakai ini, ntar mau saya bawa balik ke Jawa…,” si Ibu menjelaskan sambil malu-malu…

Teman si Ibu yang memegang mukena nyengir.

“Tapi kalau ketahuan yang punya kan nggak enak ya, nak ya…?” ucap si Ibu yang memegang mukena. Nampak jelas kalau beliau tak setuju dengan tindakan temannya yang sedikit “memalukan”.

“Masak habis shalat subuh, masih bawa mukena gini diajak nyuri spanduk…,” keluhnya.

“Eh… ini bukan nyuri, daripada dibuang, bagus dimanfaatin…” Ibu yang pertama nggak mau kalah.

“Iya, sih… Tapi lebih bagus minta daripada ngambil kayak gini. Nggak enak… Masak hampir tiap pagi Ibu ngambil spanduk orang.”

“ Ha…? Udah sering ya, Bu ngambil spanduk ini?” aku nggak bisa nahan geli.

“Sering, Nak. Malu saya…” si Ibu yang megang mukena cemberut melirik temannya. Yang dilirik cengar-cengir.

“Udah banyak dong, Bu koleksi spanduknya…” candaku.

“Ah… nggak juga…”

Kami tertawa.

“Ya, udah Bu, saya duluan ya….”

Aku pun pamit melanjutkan lari pagi yang tertunda karena spanduk.

 

Ada bagusnya juga ya, banyak spanduk caleg bertebaran kayak gini, banyak orang dapat manfaatnya. Selain menguntungkan tukang sablon juga bisa dijahit untuk sarung bantal, atau bed cover kali ya…. Eh, bisa untuk gorden juga loh, kalau anda berminat… hihihi….

 

Soal nyontreng mah, urusan nanti dibilik suara. Nggak ada yang tau juga kita nyontreng sapa, yang penting ambil spanduknya aja dolo….. Ya nggak seh….?

J

Dulu waktu aku kecil, mama punya toko. Kalau mama lagi masak, kami berlima, anak-anaknya, disuruh gantian jagain toko. Paling sering jagain toko itu ya, kakakku. Bukan karena rajin bantu mama, melainkan karena mereka punya agenda tersembunyi yang papa-mama ngga tau. Yaitu, ngambil uang dari kotak kasir dan disembunyiin diantong celana mereka. Maksudnya supaya disekolah besok harinya mereka bisa jajan banyak…..hihihi (setelah dewasa gini, aku pernah mengungkapkan kegiatan korupsi kakakku gitu ke mama, eh, mama Cuma mesem-mesem aja…)

 

Suatu hari, aku berniat meniru cara”kerja” kakak2 ku. Waktu itu aku baru duduk dikelas 1 SD.

 

Jadi, aku duduk manislah dikursi kasir. Mama lagi masak didapur.

Kakak-kakakku ngilang, nggak tau entah emana. Biasanya kalau ada mereka, aku nggak akan diijinkan menduduki kursi panas ini. Pasti udah mereka kuasai duluan sebelum aku sempat mendekat.

 

Mama udah sibuk didapur, otakku pun sibuk mengatur strategi paling cepat dan tepat untuk menjalankan misi tersembunyiku.

 

Toko rada sepi, pelan-pelan tanganku merayap ke kotak uang sambil mata jelalatan menatap sekeliling. Aman..

Syaap…! Dapat deh, satu uang receh, ngga tau recehan berapa. Nggak pakai tengok-tengok lagi, langsung masuk kantong celana.

Tapi, ntah darimana datangnya, tiba-tiba mama udah berdiri dipintu yang menghubungan toko dengan ruang belakang.

“Ngambil apa kamu…?”

“nnhh….ngghh…ngga ada.”

“Mau belajar bohong? Hah? Udah pandai bohongin mama? Jawab! Apa itu yang kamu ambil dari dalam kotak?”

 

Karena ketakutan, aku langsung  kabur, lari ke halaman. Kirain mama nggak ngejar. Eh, pas noleh ke belakang, mama lagi siap-siap mau mukul pantat aku pakai kain lap yang dipegangnya. Tangannya sedang terayun dan bakal mendarat dipantatku sekejap lagi.

Aku kabur lagi deh, secepat yang aku bisa (maunya secepat kilat, tapi aku nggak mampu… L)

 

Aku berlari terus menyusuri pinggiran jalan raya didepan ruko kami sambil menangis. Ngga kupedulikan kendaraan yang rame lalu lalang. Yang penting selamat dari kejaran mama.

Tapi mama juga nggak mau berhenti mengejar sambil teriak-teriak…

“Hei… mau kemana? Eh, jangan lari… Hei…! Sini, Mama bilang….!”

 

Setelah berlari kira-kira 200m dengan serunya, mama berhasil menangkap tanganku.

Pantatku habis dipukuli pakai kain lap yang masih setia digenggaman beliau, hasil nyabet dari dapur. Jangan dikira ngga sakit. Sakit, Coy…! Biar kata kain lap, yang namanya dipukulkan ke badan dengan perasaan gemas, tetap aja sakit.

“Kecil-kecil udah pandai nyuri. Mau jadi maling,  ya?Mana uang yang kamu ambil dari kotak? Kembaliin nggak?”

“ii…iya….Ma…” sambil menangis tangan kecilku gemetaran menguluran uang yang kucuri ke mama, airmatau bercucuran…(halah,,… hiperbolis banget seh..).

 

Aih, ternyata uang yang kucuri dengan susah payah, sampai harus lari-lari menyelamatkan diri dari mama, malah sampai menyebaban pantatku memerah kena pukul, Cuma Rp.5,- (baca: lima rupiah)

Jangan kaget gitu, guys. Tahun delapan puluhan, saat daku masih bocah, uang segitu masih ada dan tentunya masih laku. Bisa buat jajan bihun goreng diseolah….hehehe… Tapi emang sih, tetap aja usaha aku mencuri dengan hasil yang ku dapat ngga seimbang…. J

 

Setelah aku dewasa, aku baru mengerti kenapa mama sampai bela-belain ikut-ikutan aku lari-lari disepanjang jalan kenangan, sampai di liatin sama orang-orang diatas kendaraan yang lalu-lalang. Kali disangka mama adalah ibu tiri kejam yang mau nyiksa anak tirinya…. Atau majikan yang mau nyisa pembantunya,,,qiqiqiqi….

 

Kenapa Coba?

 

Karena:

  1. Mama ketakutan aku bakal ketabrak kendaraan, makanya dikejar supaya aku berhenti lari-larian dijalan raya.
  2. Mama mau ngasih aku pelajaran, bahwa mengambil sesuatu yang bukan punya kita, sekecil apapun, itu ngga boleh.
  3. Pencuri harus dihukum, walau dia udah ngakuin perbuatannya dan ngembaliin uang yang dicurinya, tetap aja harus dihukum, supaya kapok. Kayak aku nih, nyampe sekarang, aku nggak berani nyuri lagi… nyentuh barang yang bukan milikku aja aku ogah. Musti pamit dulu ma yang punya.

Dan aku berterima kasih pada Mama untuk semua alasan itu. Walupun untuk itu aku harus mengorbankan pantat indahku untuk dipukuli. J

Kemarin sore, kami sekeluarga nonton tipi yang lagi menayangkan tentang hari kiamat yang akan terjadi pada 12-12-2012. Para artis ditanyain, gimana tanggapan mereka kalo kiamat emang beneran datang. Jawabannya beragam:

“Ya, pasrah aja… mau gimana lagi..”  kata Yuri Maulida

“Kalo bisa jangan dong… belom kawin…” yang ini jawaban Chealsea Olivia.

“Bagus dong, kalu kejadiannya masih 3 tahun lagi. Jadi masih sempat tobat setobat-tobatnya,” kata Jupiter (bener juga yah…?)

Dalam hati aku kaget plus takut nih… Wew…! Ajaib, kalo emang ada yang tau kapan kiamat datang. Nabi-nabi aja nggak dikasih tau ma Allah kapan hari kiamat tiba. Paling cuma ngasih tau tanda-tandanya aja. Tapi ada sisi positifnya juga, kita jadi sadar bahwa kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum kiamat beneran bener-bener datang.

So, karena rasa penasaran mendalam datang mendera jiwaku (atas dasar apa ya, ada manusia yang berani mengatakan bahwa kiamat akan datang ditanggal segitu…), akhirnya aku menjelajahi dunia maya untuk mencari info. Apakah yang bakal terjadi menurut perkiraan manusia pada tanggal tersebut?

Ternyata…… Yang terjadi adalah kiamat kecil (sebenarnya lumayan gede, tapi kalo dibandingin sama kiamat beneran, ya, masih dalam skala kecil..)

Ini nih, temuanku:

Dalam buku ‘Apocalypse 2012’ (Lawrence E.Joseph: 2007), penulis berdarah Lebanon yang menjabat sebagai Ketua Dewan Direksi Aerospace Consulting Corporation di New Mexico ini dipaparkan dengan sangat jelas dan juga ilmiah tentang kemungkinan terjadinya bencana alam di tahun tersebut. 

Bencana itu antara lain: siklus aktivitas matahari yang memuncak di tahun 2012 yang menyebabkan panas yang luar biasa di bumi, terlebih atmosfer kita sudah mengalami penipisan dan bolong di beberapa bagian sehingga selain memanaskan bumi dengan radikal juga melelehkan es di kutub dan juga menimbulkan badai serta topan yang dahsyat. 

Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari mulai retak bahkan ada yang sampai sebesar kota California di sana-sini. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung. 

Tata surya kita tengah memasuki medan awan energi antar bintang. Awan itu mengaktifkan dan merusak keseimbangan matahari serta atmosfer planet-planet. Para ahli geofisika Rusia berpendapat bahwa ketika bumi akan memasuki awan energi tersebut di tahun 2012 hingga 2020 dan akan menimbulkan bencana besar yang belum pernah ada sebelumnya. 

Fisikawan UC Berkeley menyatakan dinosaurus serta spesies lainnya telah punah akibat tumbukan asteroid raksasa 65 juta tahun silam. Menurut siklus yang diperhitungkan secara ilmiah, seharusnya hal itu sudah terjadi lagi di saat-saat sekarang. 

Supervulkan Yellowstone yang memiliki siklus letusan dahsyat setiap 600 hingga 700 ribu tahun tengah bersiap untuk meletus kembali. Beberapa perhitunmgan ilmiah lainnya turut mendukung pandangan ini. 

Menariknya, ramalan bangsa Maya (juga suku Hopi, Mesir Kuno, dan beberapa suku kuno lainnya) di dalam kalendernya dengan detil mengungkapkan jika tahun 2012 merupakan akhir sekaligus awal zaman baru. Bagaikan kelahiran seorang anak manusia, maka kelahiran zaman baru ini akan dipenuhi dengan darah. Suku Maya merupakan salah satu suku kuno di dunia ini yang dikenal sebagai suku yang sangat detil memperhatikan dan menghitung bintang-bintang dan benda langit lainnya. 

Kitab kuno dari Cina, I Ching, juga menyatakan akan terjadi bencana besar di tahun 2012. 

Beberapa ativitas modern juga terkait dengan tahun 2012, yakni dateline modernisasi besar-besaran Pentagon paska ditubruk rudal dalam peristiwa 11 September 2001, batas akhir pelaksanaan Codex Alimentarius yang berupaya mengurangi populasi manusia di bumi dengan rekayasa genetika dan makanan transgenik, dan sebagainya. 

Seorang tokoh spiritual Yahudi dunia bernama Titzchak Qadduri jauh-jauh hari sudah menyerukan kaum Yahudi agar sesegera mungkin meninggalkan daratan Amerika Serikat karena menurut perhitungannya, sebuah komet atau asteroid raksasa tengah meluncur di alam semesta dan mengarah serta akan menumbuk menuju daratan Amerika. 

Semua itu merupakan ramalan-ramalan para pakar di bidangnya masing-masing. Menurut Islam, kiamat adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Hanya saja, kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya akan terjadi. Bisa dua jam lagi, bisa besok, atau entah kapan. Umat Islam adalah umat akhir zaman.      

 

Sumber: www.eramuslim.com

Gerrilyawan, Sahabatku yang tidak ganteng namun tampan, entah dirasuki jin apa, tiba-tiba mengirimiku sebuah award, ini nih award-nya:

award-wp

Awalnya aku seneng banget, eh, tapi ternyata ada PR dibelakang si award tadi. Eeeit… tunggu, bukan berarti aku nggak senang kalau ternyata ada PR dibalik award. Seneng-seneng aja sih… Tapi itu berarti ngerjainnya agak lama, soalnya disambi nguli…hehehe. Yaudah, daripada kebanyakan bacot, ntar PR nya nggak kelar-kelar bagus aku kerjain aja dulu yah? Biar si tampan tidak murka pada diriku ini…..

Pertanyaanya seperti berikut: (jadi ingat waktu sekolah dulu, kalo nggak bisa jawab nggak boleh pulang ma Pak Guru…hihihi..)

1. Darimana blog anda ini berasal?

Sejujurnya aku nggak pernah nanya dia berasal darimana, dari Ujung Kulon ataukah dari Timur Laut? Dari Tanjung Uban ataukah dari Bojongkenyot? Yang pasti ini blog gratisan juga, sama kayak blognya si tampan ituh…

2. Pertanyaan selanjutnya kapan blog anda ini lahir?

Doh, kapan ya? Nggak ingat tuh, Soalnya aku bukan Ibu kandungnya…hihihi… Kayaknya seputar bulan Oktober 2008 deh… Aku gi malas ngecek akta kelahirannya, ketinggalan dirumah soalnya, sementara aku ngerjain PR nih dikantor, pas jam istirahat biar nggak ganggu kerjaan. Soalnya kalo pulang kerumah nggak bisa ngutak-atik computer. Baru di switch on udah diganggu sikecil Chacha or Papanya (ehem…!)

3. Lalu kesulitan apa yang bung alami saat membuat blog ini?

Kesulitan apa yah? *mikir mode on* Kayaknya kesulitan pertama tuh ngasih nama deh, iya iya… ngasih nama. Aku sempat bengong hampir 15 menit sebelum nama Dewi Drupadi nyangkut dikepalaku. Dewi kuambil dari nama asli pemberian orang tuaku dan Drupadi….nggg…*mikir lagi* Kenapa ya? Nggak tau tuh, tiba-tiba ngerasa klop aja dengan nama Drupadi. Trus kesulitan kedua… ya suka bingung aja mau posting apa..hehehe. Kesulitan ketiga adalah WAKTU. Yah, waktu untuk meng-update blog ini sungguh sangat sedikit. Kalau siang kan nguli dikantor, kalo malam nguli dirumah…hahaha… Jadi waktu untuk posting, ya disela-sela kedua waktu itulah…*garuk-garuk jidat, bingung ndiri.. :) *

4. Apa topik yang anda bahas dalam blog anda.

(Topik? Maksud lo? Topik Hidayat apa Topik Kemas? Halah… ) Sama juga kayak sahabat tampanku itu, nggak ada hal yang spesifik untuk dibahas dimari. Lagi kepikiran apaaaa…gitu, ya mosting. Kalo lagi nggak punya pikiran ya nggak mosting. Ada topic panas, ya ikutan ngebahas, kalo topik pada dingin ya nyari kopik panas, biar dikantor nggak ngantuk. Kalo ngantuk jadi ngawur kayak gini kan?

5. Lalu kenapa anda memilih template blog anda seperti yang sekarang ini?

Sebenarnya aku dah berapa kali ganti template. Pertama kali tuh aku pake Mistylook, trus ganti ke yang lain beberapa kali. Tapi dari sekian banyak template, sejujurnya aku suka type Garland. Bisa gonta-ganti warna sesuai dengan suasana hati. Kalo lagi morning blue ya, warnanya biru semua. Kalo lagi happy-happy, ya warnanya jadi pink. Nah, kalo kayak sekarang nih, taon baru imlek, ya warnanya diganti merah semua, gettoooo…. (maunya!) Tapi, pas ganti ke Garland tuh, banyak widget yang udah diset di template sebelumnya jadi ilang. Nggak tau kenapa. Berapa kali dicoba teteeep…aja si widget gak nongol-nongol. Kalau ada yang tau, kasih tau dong… Apa tuh penyebabnya?

6. Apa yang langsung anda lakukan setelah blog anda jadi?

(Syukuran, 7 hari 8 malam…) Ya nyari bahan untuk diposting lah… Trus ngasih tau temen-temen yang kupunya sampe radius puluhan mil dari aku bahwa…. Horeeeeee..!!! Aku punya blog satu lage neh….!! (Soalnya aku kan dah punya blog sebelumnya ditempat laen)

Kemaren saya pulang kantor jam 11 malam.

Sampai dirumah, anakku yang masih batita sudah tidur lelap, dia bahkan nggak sadar saat wajah imut miliknya dihujani ciuman.

 

Diam-diam aku berbaring disampingnya, memandangi wajahnya dengan hati sedih, membayangkan bagaimana seandainya kami hidup sebagai rakyat Palestina yang tak kunjung merdeka dan anak-anak kehilangan wajah lucunya,

kehilangan hari-hari yang indah,

kehilangan malam-malam yang dihiasi tidur nyenyak (seperti anakku ini),

kehilangan orang tua disaat masih balita, ….

kehilangan keceriaan,

kehilangan rumah dan kasur empuk untuk alas tidurnya,

kehilangan ciuman hangat dari orang-orang yang dicintai dan mencintainya,

kehilangan organ tubuhnya,

kehilangan masa depannya,

bahkan kehilangan nyawa….

 

Dan diantara mereka yang masih bernyawa mungkin ada yang melihat orang tua mereka dibantai didepan mata mereka…

mereka hidup dalam ketakutan sepanjang hari…

 

Tengah malam buta, aku menangis

Tangisan sedih untuk anak-anak Palestina yang meregang nyawa disaat masih sangat muda… Serasa seperti kehilangan anakku sendiri…

(Kenapa harus mereka yang dibunuh…??????!!!)

 

Dalam doaku untuk rakyat dan anak-anak Palestina yang tewas dalam perang yang kejam… :

Semoga dialam sana mereka hidup lebih bahagia…

dan

Ya Allah, karuniakan kemerdekaan untuk rakyat Palestina….

semoga tidak ada lagi perang disana…..

semoga tidak ada lagi perang dimanapun….

dan anak-anak bisa menikmati indahnya dunia mereka….

Aminn….

 

 

 

Entah…

Aku merasa lengang, jauh menghuni dasar hati

Menikam setiap sudut pori

Aku merasa sakit, jauh didalam sukma

 

Aku merasa sendiri, sangat sendiri dan sepi

Menatap jalan kelabu didepanku

Tersamar oleh luka yang biru,

 

Aku takut…

Melangkah ke depan tanpamu,

Kurasa gelap lorong jalan didepanku

Bagai melewati hutan belantara

Aku tak bisa

Hidup tanpamu, menjalani hari yang beku

Hingga akhir hidupku

Tapi aku harus menyelesaikan perjalanan ini

Hingga saat tiba……

 

Aku harus menahan pilu dihati

Menyadari bahwa hari ini aku harus bisa terus melangkah

Tertatih dalam lelah

Lelah mengobati luka dihatiku

Lelah menghapus bayanganmu

Lelah memilah mimpi yang terburai……..

 

Kini, ulang tahunku

Tiada sepatah katapun darimu lagi

Aku merasa sendiri… sangat sendiri

Dan sangat sepi….

 

 

(aku dapat rangkaian kata-kata ini dari buku diary, puisi atau bukan, posting ajalah… ;)   daripada sepi tahun baru ini… )

 

Kepada seluruh kaum muslimin di seluruh dunia (kejauhan nggak tuh..?)

SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1430 HIJRIAH.

SEMOGA TAHUN INI IMAN KITA SEMAKIN BERTAMBAH (kuat…),

REZEKI KITA SEMAKIN MUDAH (didapat…)

HIDUP KITA SEMAKIN CERAH (dan nikmat…)

DUNIA SEMAKIN INDAH (diliat…)

AMIIN…..

MENJUAL KEPERAWANAN

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.                                                  

                                                                                                                     

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.    

                      

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel  ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.    

                                                                                               

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:              

”Maaf, nona… Apakah anda sedang menunggu seseorang?”                                                            

”Tidak!” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.                                            

”Lantas untuk apa anda duduk disini?”                                                                              

”Apakah tidak boleh?” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.                                   

                                                                                                                     

”Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”           

”Maksud, bapak?”                                                                                                   

                                                                                                                      

”Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”                                                            

”Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk disini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.                                                                                                              

                                                                                                                     

”Jual? Apakah anda menjual sesuatu disini?”                                                                      

                                                                                                                     

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.                                                                               

                                                                                                                     

”Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”                     

”Saya ingin menjual diri saya,” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam dalam kearah petugas satpam  itu.                                                                                                                 

                                                                                                                     

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.                                                   

”Mari ikut saya,” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.                                  

                                                                                                         

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum diwajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.                                                                   

                                                                                                                     

Di koridor hotel itu terdapat korsi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.                                                                                                        

                                                                                                                     

”Apakah anda serius? ”                                                                                           

”Saya serius,” Jawab wanita itu tegas.                                                                           

”Berapa tarif yang anda minta?”                                                                                 

”Setinggi tingginya..”                                                                                           

                                                                                                                     

Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.                                                  

”Saya masih perawan.”                                                                                            

                                                                                                                      

”Perawan?”

Sekarang petugas satpam itu benar benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya                                                                      

                                                                                                                     

”Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”                                                                         

”Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan. Ya kan…”                       

                                                                                                                     

”Kalau tidak terbukti?”                                                                                            

”Tidak usah bayar…”                                                                                           

                                                                                                                      

”Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.                          

”Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”                                 

”Cobalah.”                                                                                                       

Berapa tarif yang diminta? ”                                                                                    

”Setinggi tingginya. ”                                                                                            

”Berapa? ”                                                                                                       

”Setinggi tingginya. Saya tidak tahu berapa?”                                                                    

                                                                                                                     

”Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.”                                         

                                                                                                                     

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.                                                                 

                                                                                                                      

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.                                        

                                                                                                                      

”Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ”                                         

”Tidak adakah yang lebih tinggi? ”                                                                                

”Ini termasuk yang tertinggi,” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.                                           

”Saya ingin yang lebih tinggi…”                                                                                 

”Baiklah. Tunggu disini…” Petugas satpam itu berlalu.                                                         

                                                                                                                      

Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.                                          

                                                                                                                      

”Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?”                                          

”Tidak adakah yang lebih tinggi?”                                                                               

”Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama sama butuh…”  

                                                                                                                     

”Saya ingin tawaran tertinggi…” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.            

                                                                                                                     

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.                                                         

                                                                                                                     

”Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli,” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.             

                                                                                                                     

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.   

                                                                                                                     

”Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat?” Kata petugas satpam itu dengan sopan.                        

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama kesekujur tubuh wanita itu …                                         

                                                                                                                     

”Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.                                                                      

”Setinggi tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.                                                             

Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang?” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.                    

”Rp. 6 juta, tuan ”                                                                                              

”Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam.”                                               

                                                                                                                      

Wanita itu terdiam. Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.                     

                                                                                                                      

”Bagaimana?” tanya pria itu.                                                                                    

”Saya ingin lebih tinggi lagi…” Kata wanita itu.                                                                

                                                                                                                     

Petugas satpam itu tersenyum kecut.                                                                                  

                                                                                                                     

”Bawa pergi wanita ini,” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.            

”Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual?”                                   

”Tentu! ”                                                                                                        

”Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”                                                     

”Saya minta yang lebih tinggi lagi …”                                                                          

                                                                                                                     

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.                                                  

                                                                                                                      

”Kalau begitu, kamu tunggu ditempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya.”             

                                                                                                                      

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.                                         

                                                                                                                      

”Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah?”                                                      

“Apakah itu tidak cukup?” Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika                                                                                

                                                                                                                     

”Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”                                                          

                                                                                                                      

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan diwajah pria itu.                                  

                                                                                                                     

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu:

” Pak, apakah anda butuh wanita… ??? ”              

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.                                    

”Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.                                  

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini. ” Dia masih perawan..”                     

                                                                                                                      

Pria itu mendekati petugas satpam itu.                                                                              

Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”                                                     

”Benar, pak. ”                                                                                                   

”Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu… ”                                                               

”Dengan senang hati. Tapi, pak… Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”                                    

”Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.                                                          

                                                                                                                     

Pria itu menyalami hangat wanita itu.                                                                                

”Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah …” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.                                                                                                          

”Mari kita bicara dikamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.                

                                                                                                                      

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.                                                                      

                                                                                                                      

Di dalam kamar …                                                                                                  

                                                                                                                      

”Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”                                                                        

”Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”                                                                

”Maksud kamu? ”                                                                                                  

”Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterimakasih….”                                                                                              

”Hanya itu …?”                                                                                                   

”Ya …! ”                                                                                                       

                                                                                                                     

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani ditengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa dihadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.                                                                                                 

                                                                                                                     

”Siapa nama kamu? ”                                                                                               

”Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar…” Kata wanita itu                                

”Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”                         

”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”                                                                           

                                                                                                                      

”Ada !” Kata pria itu seketika.                                                                                    

                                                                                                                     

”Sebutkan! ”                                                                                                     

                                                                                                                     

”Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu kerumah sakit. Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.                        

                                                                                                                     

”Saya tidak mengerti …”                                                                                         

                                                                                                                     

”Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterimakasih.  Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terimakasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ..”                                            

                                                                                                                     

”Dan, apakah bapak ikhlas…? ”                                                                                  

”Apakah uang itu kurang? ”                                                                                        

”Lebih dari cukup, pak … ”                                                                                     

                                                                                                                     

”Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”                                                             

”Silahkan …”                                                                                                   

                                                                                                                      

”Mengapa kamu begitu beraninya … ”                                                                             

 

“Siapa bilang saya berani. Saya takut pak.. Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya kerumah sakit dan semua itu gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh`… Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”                                                       

                                                                                                                      

”Keyakinan apa? ”                                                                                                

                                                                                                                      

”Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Allah SWT lah yang akan menjaga kehormatan kita … ”    

 Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.                                                                          

                                                                                                                     

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:                                                                          

”Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”                                                              

                                                                                                                      

”Kesadaran… ”                                                                                                  

                                                                                                                      

 . . .                                                                                                               

                                                                                                                     

Di sebuah rumah dipemukiman kumuh.                                                                                  

                                                                                                                     

Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.                                     

                                                                                                                     

”Kamu sudah pulang, nak ”                                                                                         

”Ya, bu … ”                                                                                                    

                                                                                                                      

”Kemana saja kamu, nak … ???”                                                                                  

”Menjual sesuatu, bu … ”                                                                                        

                                                                                                                     

”Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …              

                                                                                                                     

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Allah SWT selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan …                                             

                                                                                                                      

”Kini saatnya ibu untuk berobat … ”                                                                            

 

Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Allah SWT telah membeli yang saya jual… ”.                  

                                                                                                                     

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya kedalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi: ” Antar kami kerumah sakit …”_,___

 

(cerita ini di copas dari email yang dikirim oleh sahabat dari dunia gaib maya yang belum pernah kutemui didunia nyata tapi rajin kirim uang artikel bagus. Thk’s Pak Rudi….)

Tulisan Sebelumnya »