Dulu waktu aku kecil, mama punya toko. Kalau mama lagi masak, kami berlima, anak-anaknya, disuruh gantian jagain toko. Paling sering jagain toko itu ya, kakakku. Bukan karena rajin bantu mama, melainkan karena mereka punya agenda tersembunyi yang papa-mama ngga tau. Yaitu, ngambil uang dari kotak kasir dan disembunyiin diantong celana mereka. Maksudnya supaya disekolah besok harinya mereka bisa jajan banyak…..hihihi (setelah dewasa gini, aku pernah mengungkapkan kegiatan korupsi kakakku gitu ke mama, eh, mama Cuma mesem-mesem aja…)
Suatu hari, aku berniat meniru cara”kerja” kakak2 ku. Waktu itu aku baru duduk dikelas 1 SD.
Jadi, aku duduk manislah dikursi kasir. Mama lagi masak didapur.
Kakak-kakakku ngilang, nggak tau entah emana. Biasanya kalau ada mereka, aku nggak akan diijinkan menduduki kursi panas ini. Pasti udah mereka kuasai duluan sebelum aku sempat mendekat.
Mama udah sibuk didapur, otakku pun sibuk mengatur strategi paling cepat dan tepat untuk menjalankan misi tersembunyiku.
Toko rada sepi, pelan-pelan tanganku merayap ke kotak uang sambil mata jelalatan menatap sekeliling. Aman..
Syaap…! Dapat deh, satu uang receh, ngga tau recehan berapa. Nggak pakai tengok-tengok lagi, langsung masuk kantong celana.
Tapi, ntah darimana datangnya, tiba-tiba mama udah berdiri dipintu yang menghubungan toko dengan ruang belakang.
“Ngambil apa kamu…?”
“nnhh….ngghh…ngga ada.”
“Mau belajar bohong? Hah? Udah pandai bohongin mama? Jawab! Apa itu yang kamu ambil dari dalam kotak?”
Karena ketakutan, aku langsung kabur, lari ke halaman. Kirain mama nggak ngejar. Eh, pas noleh ke belakang, mama lagi siap-siap mau mukul pantat aku pakai kain lap yang dipegangnya. Tangannya sedang terayun dan bakal mendarat dipantatku sekejap lagi.
Aku kabur lagi deh, secepat yang aku bisa (maunya secepat kilat, tapi aku nggak mampu… L)
Aku berlari terus menyusuri pinggiran jalan raya didepan ruko kami sambil menangis. Ngga kupedulikan kendaraan yang rame lalu lalang. Yang penting selamat dari kejaran mama.
Tapi mama juga nggak mau berhenti mengejar sambil teriak-teriak…
“Hei… mau kemana? Eh, jangan lari… Hei…! Sini, Mama bilang….!”
Setelah berlari kira-kira 200m dengan serunya, mama berhasil menangkap tanganku.
Pantatku habis dipukuli pakai kain lap yang masih setia digenggaman beliau, hasil nyabet dari dapur. Jangan dikira ngga sakit. Sakit, Coy…! Biar kata kain lap, yang namanya dipukulkan ke badan dengan perasaan gemas, tetap aja sakit.
“Kecil-kecil udah pandai nyuri. Mau jadi maling, ya?Mana uang yang kamu ambil dari kotak? Kembaliin nggak?”
“ii…iya….Ma…” sambil menangis tangan kecilku gemetaran menguluran uang yang kucuri ke mama, airmatau bercucuran…(halah,,… hiperbolis banget seh..).
Aih, ternyata uang yang kucuri dengan susah payah, sampai harus lari-lari menyelamatkan diri dari mama, malah sampai menyebaban pantatku memerah kena pukul, Cuma Rp.5,- (baca: lima rupiah)
Jangan kaget gitu, guys. Tahun delapan puluhan, saat daku masih bocah, uang segitu masih ada dan tentunya masih laku. Bisa buat jajan bihun goreng diseolah….hehehe… Tapi emang sih, tetap aja usaha aku mencuri dengan hasil yang ku dapat ngga seimbang…. J
Setelah aku dewasa, aku baru mengerti kenapa mama sampai bela-belain ikut-ikutan aku lari-lari disepanjang jalan kenangan, sampai di liatin sama orang-orang diatas kendaraan yang lalu-lalang. Kali disangka mama adalah ibu tiri kejam yang mau nyiksa anak tirinya…. Atau majikan yang mau nyisa pembantunya,,,qiqiqiqi….
Kenapa Coba?
Karena:
- Mama ketakutan aku bakal ketabrak kendaraan, makanya dikejar supaya aku berhenti lari-larian dijalan raya.
- Mama mau ngasih aku pelajaran, bahwa mengambil sesuatu yang bukan punya kita, sekecil apapun, itu ngga boleh.
- Pencuri harus dihukum, walau dia udah ngakuin perbuatannya dan ngembaliin uang yang dicurinya, tetap aja harus dihukum, supaya kapok. Kayak aku nih, nyampe sekarang, aku nggak berani nyuri lagi… nyentuh barang yang bukan milikku aja aku ogah. Musti pamit dulu ma yang punya.
Dan aku berterima kasih pada Mama untuk semua alasan itu. Walupun untuk itu aku harus mengorbankan pantat indahku untuk dipukuli. J