Tentang aku
Tanggal 1 Januari, saat embun membasahi atap seng rumah sederhana milik nenekku dan kabut mengaburkan pandangan sesisi kampung kecil di kaki gunung merapi itu, mama melahirkan aku detengah dinginnya subuh tahun baru. Putri keempatnya yang cantik….hehehe…
Aku punya 4 saudara. Tiga orang kakak diatasku cewek semua, cantik-cantik pula…. Akulah yang keempat. Cewek paling bontot, karena adikku yang lahir 2 tahun setelah aku memiliki jenis kelamin yang berbeda dengan kami; LAKI-LAKI.
Desaku nun jauh dikaki gunung. 12 km sebelah utara kota Bukittinggi. Waktu kecil, mama mencari kayu bakar sampai ke lereng gunung merapi tersebut. Jika berdiri disamping rumah nenek. gunung merapi berdiri tepat didepan kita. Karena dekat gunung, pastinya cuaca disana sangat dingin… Tak semua orang sanggup mandi pagi, ehm….! Kecuali nenekku.
Sebelum azan subuh, nenek sudah pergi ke sungai. Mandi, trus sholat di mushola kecil dekat pohon besar disamping tebing mata air yang mengalirkan air jernih kesungai itu. Dan sepengetahuanku, nenekku sehat-sehat aja. Nggak menggigil sehabis mandi. Katanya mandi sebelum subuh itu obat, membuat badan jadi sehat dan segar. (Tapi sampai sekarang aku belum berani memanfaatkan “obat” tersebut untuk kesehatanku..mending tidur…zzz..zzz..)
Nenekku bertubuh kecil, tapi lincah. Beliau juga pintar manjat pohon. Walau beliau selalu pakai kain yang melilit di tubuhnya, memanjat adalah hal sepele baginya. Beliau juga kuat membawa sekarung padi dikepalanya atau memikul bambu yang berisi air dibahunya. Bambu itu dibolongi dan diiisi air jernih dari mata air untuk dibawa pulang. Dulu semua orang kampungku membawa air untuk minum dari sungai bukan dengan ember. Tapi dengan bambu yang dibolongin buku-bukunya. Panjangnya sekitar 1,5 meter lebih kurang. Tergantung seberapa tinggi orang yang akan memikul. Orang kampungku menyebutnya “garigiak.”
Rumah nenekku sederhana banget, dinding sebelah depan terbuat dari papan, dinding sebelah belakang terbuat dari bambu yang dianyam. Waktu mengandung aku dalam perutnya, mama tinggal bersama nenek, hingga aku lahir disana dengan bantuan bidan desa.
Sekarang, Nenek sudah nggak ada lagi didunia ini. Dan mama sudah jadi sorang nenek karena kakak-kakakku udah memberinya cucu-cucu yang sedang berangkat remaja dan aku (baru) menyumbang satu orang bayi kecil mungil nan imut….
Mama juga punya perawakan kecil seperti nenek. Ajaibnya, mama melahirkan anak-anak yang tinggi, karena papa kami tinggi menjulang….(pohooon…kali’). Kalo kami sekeluarga jalan-jalan (jalan kaki, maksudnya…), tetangga pasti pada bilang gini sama kakakku….”Mon, itu adek yang paling kecil ya….?” Iddiiih….masak mamaku dibilang adek kami… Mentang-mentang mama kecil…
Bedanya dengan nenek adalah, mama sakit-sakitan. Adaaaaa….aja yang sakit. Paling parah tuh ya, mag nya. Sama kayak papa. Tapi aku berharap mama diberi umur panjang seperti nenekku..
Aku hobi mengarang, tapi nggak berani ngirim ke penerbit. Takut patah hati karena ditolak. Karena itulah aku bikin blog. Mungkin beberapa orang nganggap blogku ini nggak penting banget. Ya nggak apa-apa. Yang penting aku bisa menyalurkan bakat terpendamku didunia tulis-menulis tanpa takut ditolak untuk diterbitkan. Toh aku bisa terbitkan sendiri kisahku. Hanya sekali klik. Terbitlah sudah.
Gitu deh….
heheheheh.. iya aku juga lagi ilfill ma yang namanya media cetak.. jadi bikin media cetak sendiri aja .. nulis suka**, jual suka**, duit suka** skalian memperkuat propaganda dakwah gitu deh
makasih udah isi buku tamu saya..
“wah, hebat tuh Mia… Sampaikanlah walau hanya satu ayat, begitu tuh pesan Junjungan kita. Makasih juga udah mampir… Ntar link nya ku pajang ya….”
Assalamu’alaikum
Salam kenal mbak Dewi… Jangan lupa kapan2 berkunjung juga kesini baca artikel artikel Islam.
wassalam