Dewidrupadi's Weblog

Lucu-lucuan aje….

Kondom

Suatu hari di asrama wanita, seorang Pendeta sedang memeriksa kondisi asrama. Di salah satu kamar ter dengar suara “Aaarggh, uumph, yees, oohhh” dan si Pendeta pun kaget waktu mendengar suara itu…

Keesokan harinya semua anak perempuan dikumpulkan di lapangan:

Pendeta: “Semalam saya mendengar suara desahan di salah satu kamar…”

Murid: “Hah?!!”
Shanti: “Kikikikikik” Baca entri selengkapnya »

Tidak ada Komentar »

Puisi ecek-ecek di tahun baru

Entah…

Aku merasa lengang, jauh menghuni dasar hati

Menikam setiap sudut pori

Aku merasa sakit, jauh didalam sukma

 

Aku merasa sendiri, sangat sendiri dan sepi

Menatap jalan kelabu didepanku

Tersamar oleh luka yang biru,

 

Aku takut…

Melangkah ke depan tanpamu,

Kurasa gelap lorong jalan didepanku

Bagai melewati hutan belantara

Aku tak bisa

Hidup tanpamu, menjalani hari yang beku

Hingga akhir hidupku

Tapi aku harus menyelesaikan perjalanan ini

Hingga saat tiba……

 

Aku harus menahan pilu dihati

Menyadari bahwa hari ini aku harus bisa terus melangkah

Tertatih dalam lelah

Lelah mengobati luka dihatiku

Lelah menghapus bayanganmu

Lelah memilah mimpi yang terburai……..

 

Kini, ulang tahunku

Tiada sepatah katapun darimu lagi

Aku merasa sendiri… sangat sendiri

Dan sangat sepi….

 

 

(aku dapat rangkaian kata-kata ini dari buku diary, puisi atau bukan, posting ajalah… ;)   daripada sepi tahun baru ini… )

 

5 Komentar »

Suatu malam

Malam itu 1 Januari….

Mengapa hujan mesti turun

saat itu kesempatanku untuk bermanja denganmu

kesempatanmu untuk bermesra dengan ku

tapi kita hanya duduk sendiri-sendiri dibelakang tenda,

berdua, tapi aku merasa sendiri

dan kita tak punya keberanian untuk melebur jadi satu

 

pernah kau bertanya padaku

mengapa aku memilihmu

 

seharusnya kubisikkan ditelingamu

bahwa aku jatuh cinta padamu

tapi tetap saja aku tak punya keberanian

 

suatu hari di ulang tahunmu

kau minta hadiah sun dariku

aku hanya tertawa,

sungguh, aku tak punya keberanian….

 

tapi, karena itukah aku kehilanganmu?

karena hubungan kita sedingin salju?

karena itukah kau meninggalkanku?

 

dan mengapa hingga saat ini aku masih mengingatimu

merindui dan memimpikanmu?

sedang disini ada seseorang yang mendampingiku

dengan kesabaran, juga cinta dan kasih sayang ?

 

ah….

kadang ingin sekali aku memanggilmu,

dan merangkai kembali cerita yang belum usai

 

dimana kau sekarang…?

 

kau pernah bilang; doakan aku….

saat itu kita ada disimpang perpisahan

aku mengiyakan tanpa suara, hanya dihati ku berkata

 

dan aku benar-benar mendoakanmu….siang dan malam

hingga keyakinanku akan kembalinya dirimu mulai luntur perlahan…

kau telah pergi, dan aku ragu apa kau tau jalan kembali….

kau meneruskan langkah tanpa menoleh lagi padaku

dan aku berjalan sendiri, menyusuri panjangnya penantian,

dengan kau tetap ada disini (dihatiku)

 

hingga hari ini, bertahun saat itu telah berlalu…

terkadang aku mampu membunuh harapan yang terus tumbuh dihatiku…

tapi lebih sering dia tumbuh subur tanpa mampu kebendung…

aku tak tau dimana kau sekarang,

aku hanya tau aku selalu bimbang…

memilih untuk terus melangkah menapaki hidup atau tetap menunggu…

 

Fe, katakanlah padaku bahwa kau tak lagi punya cinta untukku

agar aku tau arah mana yang harus ku tuju….

 

(Buku harian, Oktober 2000)

Tidak ada Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.