Malam itu 1 Januari….
Mengapa hujan mesti turun
saat itu kesempatanku untuk bermanja denganmu
kesempatanmu untuk bermesra dengan ku
tapi kita hanya duduk sendiri-sendiri dibelakang tenda,
berdua, tapi aku merasa sendiri
dan kita tak punya keberanian untuk melebur jadi satu
pernah kau bertanya padaku
mengapa aku memilihmu
seharusnya kubisikkan ditelingamu
bahwa aku jatuh cinta padamu
tapi tetap saja aku tak punya keberanian
suatu hari di ulang tahunmu
kau minta hadiah sun dariku
aku hanya tertawa,
sungguh, aku tak punya keberanian….
tapi, karena itukah aku kehilanganmu?
karena hubungan kita sedingin salju?
karena itukah kau meninggalkanku?
dan mengapa hingga saat ini aku masih mengingatimu
merindui dan memimpikanmu?
sedang disini ada seseorang yang mendampingiku
dengan kesabaran, juga cinta dan kasih sayang ?
ah….
kadang ingin sekali aku memanggilmu,
dan merangkai kembali cerita yang belum usai
dimana kau sekarang…?
kau pernah bilang; doakan aku….
saat itu kita ada disimpang perpisahan
aku mengiyakan tanpa suara, hanya dihati ku berkata
dan aku benar-benar mendoakanmu….siang dan malam
hingga keyakinanku akan kembalinya dirimu mulai luntur perlahan…
kau telah pergi, dan aku ragu apa kau tau jalan kembali….
kau meneruskan langkah tanpa menoleh lagi padaku
dan aku berjalan sendiri, menyusuri panjangnya penantian,
dengan kau tetap ada disini (dihatiku)
hingga hari ini, bertahun saat itu telah berlalu…
terkadang aku mampu membunuh harapan yang terus tumbuh dihatiku…
tapi lebih sering dia tumbuh subur tanpa mampu kebendung…
aku tak tau dimana kau sekarang,
aku hanya tau aku selalu bimbang…
memilih untuk terus melangkah menapaki hidup atau tetap menunggu…
Fe, katakanlah padaku bahwa kau tak lagi punya cinta untukku
agar aku tau arah mana yang harus ku tuju….
(Buku harian, Oktober 2000)